Sudah menjadi rahasia umum bahwa tiap trader pasti pernah mengalami frustasi saat mencari waktu trading terbaik. Situasi ini wajar, dan terjadi pada hampir semua trader. Tapi dengan bermodal indikator yang tak banyak diketahui, heiken-ashi, trader bisa membuka trading secara layak.

Selain dengan indikator heiken-ashi, trader juga bisa memanfaatkan pivot point untuk menghilangkan rasa frustasi akibat pergerakan harga pada market. Memang, frustasi kadang bisa dihasilkan dari rencana trading yang kurang matang. Jika demikian, dua indikator ini cukup mumpuni dimanfaatkan.

Dengan membawa rencana trading yang terstruktur, pendekatan yang diambil untuk membuka trading akan menjadi lebih pasti. Rencana trading yang dimaksud setidaknya terdiri dari waktu masuk, poin masuk, poin keluar, manajemen risiko, dan lainnya.

Mengikuti Tren Dengan Heiken-Ashi

Berbekal rencana, trader setidaknya sudah selangkah lebih maju dalam segala aspek trading, terlebih dalam mencegah risiko kalah yang bisa menimpa kapan saja. Terdapat satu perbedaan besar antara trader yang sukses dan mereka yang tidak, yaitu pada rencana trading.

Tak hanya membawa rencana trading, eksekusi juga harus menjadi perhatian penting. Misalnya saja, kebanyakan trader yang kurang sukses seringnya menahan posisi trading kalah lebih lama dari trading yang dimenangkan. Ini termasuk gejala kurang percaya diri dalam mengikuti rencana, terlebih jika trading sudah dibuka.

Mengikuti Tren Dengan Heiken-Ashi
Sumber: yimg.com

Sebagai contoh, saat mengamati tabel trading mata uang EUR/USD selama satu tahun tersebut, banyak trader yang menutup trading pada posisi kalah sampai sebanyak 127 pip. Jika dibanding dengan profit yang didapat, jumlah ini hampir dua kali lipat dari profit sebanyak 65 pip.

Rasa kurang percaya diri saat mengeksekusi rencana trading dapat menyebabkan trader menutup trading terlalu dini. Jika skalanya dibuat lebih luas, tak hanya pada EUR/USD, rata-rata profit yang diperoleh trader makin menurun, yaitu sebanyak 52 pip saja.

Jumlah tersebut bahkan tak lebih dari separuh rata-rata kekalahan yang diterima trader, sekaligus menunjukkan bahwa trader ragu untuk menjadi pemenang. Solusi dari masalah yang sudah disebut tak lain yaitu dengan memakai indikator yang disebut heiken-ashi.

Indikator heiken-ashi sebenarnya merupakan perkembangan lanjutan dari candlestick tradisional Jepang yang sudah dimodifikasi sehingga mampu menunjukkan harga pembukaan dan penutupan yang sudah dihitung secara rata-rata.

Meski dianggap kurang populer, tapi heiken-ashi sebenarnya lebih mudah dibaca menurut banyak trader, bahkan dibanding candlestick sekalipun. Perhitungannya sangat mudah, dan trader hanya butuh mengetahui harga pembukaan dan penutupan pada candlestick saja.

Formula indikator heiken-ashi:

  • Open = (open bar sebelumnya + close bar sebelumnya)/2
  • Close = (open + high + low + close)/4
  • High = max (high, open, close)
  • Low = min (low, open, close)

Ada dua keunggulan dari heiken-ashi jika dilibatkan dalam penyusunan rencana trading, yaitu bisa mengetahui arah tren secara pasti, dan mampu mengukur kekuatan tren. Dalam menunjukkan arah tren yang berlangsung, heiken-ashi akan menampilkan dengan candle yang diberi kode warna.

Candle biru menyatakan jika tren sedang dalam periode naik, sedang candle merah berarti tren sedang menurun. Keunggulan lain dari heiken-ashi yaitu mampu membaca kekuatan tren. Trader mungkin sadar jika tak banyak candle tak menunjukkan sumbu ke arah berlawanan dari tren, tapi dengan heiken-ashi semua jadi terlihat.

Tak adanya sumbu dihasilkan dari perhitungan di atas untuk mengindikasikan harga rata-rata yang bergerak searah tren. Jadi saat trader melihat tak ada sumbu, bisa diartikan sedang terjadi tren kuat. Tapi jika dalam trading trader kurang yakin apakah sudah waktunya keluar atau belum, cukup gunakan heiken-ashi untuk melihat sumbu candle.

Formula indikator heiken-ashi:
Sumber: yimg.com

Jika heiken-ashi terus menunjukkan tanda keberlanjutan dari suatu tren yang bergerak sesuai arah trading, tetap yakin pada posisi trading yang sudah dibuka. Sebagai contoh, trader yang memakai candlestick Jepang (sebelah kiri) mungkin akan merasa bingung saat terjadi penguatan sehingga memilih keluar dari tren.

Dengan indikator heiken-ashi (sebelah kanan), dengan melihat candle biru tanpa mempunyai sumbu ke arah bawah, trader tetap bisa nyaman membuka trading dengan posisi long. Situasi tersebut membuat trader tetap terus bisa mengikuti tren selama mungkin.

Waktu Trading Dengan Pivot Point

Dari banyaknya indikator yang tersedia, pivot point bisa menjadi pilihan paling logis untuk trader jangka pendek untuk diterapkan pada chart harian. Pivot point, terutama camarilla pivot point, memberi hasil yang lebih mendekati presisi dibanding jenis lain.

Pivot point bisa membantu aktivitas trading jadi lebih produktif, apalagi jika dikaitkan dengan level support dan resistance. Indikator ini tak hanya menyediakan trader manajemen risiko yang layak, tapi juga memberi peluang terbaik terkait kapan waktu masuk trading yang tepat.

Perhitungan matematis dalam pivot point bisa membantu trader untuk mengolah data dari masa lalu untuk memperkirakan level support dan resistance selanjutnya. Periode data masa lalu yang digunakan bisa bervariasi, mulai dari hitungan menit, jam, harian, bahkan bulanan.

Dengan memanfaatkan camarilla pivot point, trader bisa melihat kecenderungan variasi tren harian yang berkembang. Saat harga mendekati level 3 dari support dan resistance, banyak trader yang mengira kalau pembalikan arah akan segera terjadi.

Waktu Trading Dengan Pivot Point
Sumber: senasib.com

Sebagai konsekuensinya, trader kerap mengambil profit hanya sampai level 2 saja meski sedang dalam posisi menang. Gambar tersebut menunjukkan dua kali pembalikan yang terjadi pada hari yang sama untuk pasangan mata uang AUD/USD.

Jika melihat pada grafik di atas, trader kemungkinan juga merasa bahwa level 4 dari support dan resistance berpotensi tersentuh oleh breakout yang terlihat berkembang. Pada posisi ini, trader yang tak ingin menderita kalah kemungkinan besar menempatkan stop-loss di luar harga.

Karena trader melihat kemungkinan breakout meningkat jika pivot harian level S3 dan R3 tersentuh, trader setidaknya harus menempatkan trading yang searah. Jadi, jika R3 tersentuh, trader harus segera menjual sembari mengamati celah untuk membeli di S3.

Langkah demikian akan sangat membantu trader, meski lebih tepat diterapkan untuk tren jangka panjang. Dalam hal ini, trader bisa melakukan analisa beberapa time frame sekaligus untuk mendapat gambaran besar tentang interaksi level support dan resistance.

Semisal trader ingin mengobservasi tren naik jangka panjang guna mendapat harga beli yang murah, harus harus menunggu sampai setidaknya harga menyentuh camarilla pivot S3 harian. Langkah sebaliknya bisa diambil trader jika menemukan tren menurun jangka panjang.

Jika harga menyentuh level 4 dari support dan resistance, sesuatu yang besar sangat berpeluang terjadi pada market yang sedang ditransaksikan. Pada kondisi yang demikian, trader bisa mencari persilangan antara level S4 dan R4 sebagai peluang untuk trading breakout.

Pada dasarnya support dan resistance merupakan area paling relevan untuk analisa teknikal karena mampu menawarkan trader potensi tinggi untuk trading tren. Selain itu, trader juga bisa memanfaatkan level support dan resistance sebagai area manajemen risiko, khususnya lokasi stop.

KIRIM KOMENTAR & DISKUSI

Masukkan komentar atau pertanyaan anda
Masukkan nama anda disini