Tak sedikit trader yang menganalogikan diri sebagai singa yang sedang mencari mangsa di hutan rimbun. Seperti hewan pemangsa yang harus mengenal lingkungan untuk memaksimalkan peluang, trader juga harus melakukan hal sama demi mendapat peluang tinggi dari trading.

Satu cara terbaik untuk mengenal lingkungan dalam chart yaitu dengan memahami chart candlestick. Bagaimana tidak, tiap satu candle berisi informasi penting tentang harga dan kondisi market secara umum. Itu sebabnya, candlestick lebih banyak dipilih dibanding jenis chart lain.

Sangat penting untuk memahami tiap komponen yang ada dalam satu candle karena mampu menyajikan persepsi visual tentang harga. Karena fungsinya yang begitu penting, chart candlestick kerap dimanfaatkan sebagai alat analisa teknikal.

Apa Itu Chart Candlestick?

Chart candlestick sederhananya adalah chart terdiri dari barisan candle (lilin) yang bisa dimanfaatkan trader untuk memahami pergerakan harga. Dalam satu candlestick menyimpan informasi tentang harga pembukaan, harga penutupan, termasuk tinggi rendahnya harga untuk periode tertentu.

Pergerakan harga, atau price action, bisa memberi trader petunjuk tentang tren atau pembalikan yang terjadi pada market. Misalnya saja, beberapa candlestick bisa memunculkan pola tertentu yang tampak pada chart, dan bisa mengindikasikan keberlanjutan atau pembalikan tren.

Candlestick juga bisa memunculkan formasi individu yang kemudian memberi indikasi entry point bagi trader. Periode yang digambarkan pada tiap candle tergantung pada jenis time frame yang dipilih trader. Satu jenis time frame paling populer yaitu chart harian, yang mana berisi harga pembukaan, penutupan, dan tinggi rendahnya harga dalam satu hari.

Komponen yang berbeda dalam candle semacam ini mampu memberi gambaran pada trader guna membuat prediksi ke mana harga akan bergerak selanjutnya. Satu contoh mudah, semisal candle tertutup jauh di bawah harga pembukaan, berarti telah terjadi penolakan.

Bagian Chart Candlestick

Bagian Chart Candlestick
Sumber: google.com

Gambar tersebut menampilkan bentuk candlestick pada umumnya. Ada tiga bagian utama pada satu candle yang digunakan untuk menjelaskan informasi soal harga, yaitu open, close, dan sumbu (ekor). Poin utama yang harus dipahami dari candlestick yaitu harga open dan close.

Poin ini mengidentifikasi di mana harga suatu aset dimulai, dan seberapa lama harga bertahan akan terlihat dari panjangnya bodi pada candle. Tiap candle menggambarkan pergerakan harga untuk periode tertentu sesuai yang diinginkan trader saat memilih durasi chart.

Semisal memilih chart harian, tiap satu candle akan mewakili harga open, close, dan rendah tingginya harga pada hari yang dipilih. Paling tidak, tiap trader harus paham tentang bagian-bagian candlestick supaya mudah dalam menganalisa chart nantinya.

#1. Open price

Harga pembukaan menggambarkan harga pertama trading yang kemudian membentuk bodi dari candle. Jika harga kemudian mengalami tren naik, maka candle akan berwarna biru atau hijau (tergantung dari pengaturan warna). Jika harga mengalami penolakan, candle akan berwarna merah

#2. High price

Puncak dari sumbu teratas mengindikasikan harga tertinggi yang ditransaksikan selama periode tertentu. Tapi jika tak ada sumbu di atas bodi candle, bisa diartikan bahwa harga pembukaan atau harga penutupan lebih tinggi daripada harga yang ditransaksikan.

#3. Low price

Harga terendah dalam transaksi ditunjukkan dengan sumbu yang ada di bawah bodi candle. Tapi jika tak ada sumbu candle yang terlihat, maka harga terendah yang ditransaksikan akan sama dengan harga penutupan atau bahkan harga pembukaan pada candle bullish.

#4. Close price

Harga penutupan merupakan harga terakhir yang ditransaksikan selama periode pembentukan candle. Jika harga penutupan di bawah harga pembukaan, candle akan berwana merah. Tapi jika harga penutupan ada di atas harga pembukaan, candle akan menunjukkan warna biru.

#5. Wick (sumbu/ekor)

Komponen penting lain dari candle yaitu sumbu atau ekor. Elemen ini sangat krusial karena mampu menunjukkan harga ekstrim pada periode tertentu dalam chart. Sumbu lebih mudah teridentifikasi karena terlihat lebih kecil daripada bodi candle.

Sumbu candle memberi informasi berupa kekuatan pergerakan harga. Dari sumbu yang ada pada candle ini, trader bisa melihat momentum yang sedang berkembang dalam market sehingga bisa menghindar dari perubahan harga yang ekstrim.

#6. Direction

Arah pergerakan harga diindikasikan dengan warna berbeda pada candle. Jika harga dari candle menutup di atas harga pembukaan, maka harga bergerak naik dan candle akan berwarna biru. Sebaliknya, jika candle berwarna merah, berarti harga ditutup di bawah harga pembukaan.

#7. Range

Perbedaan antara harga terendah dan tertinggi dari suatu candle merupakan range. Trader bisa menghitung range dengan mengambil harga teratas dari sumbu tertinggi lalu dikurangi harga terendah dari sumbu terbawah (range = harga tertinggi – harga terendah).

Membaca Chart Candlestick

Dengan mempunyai pemahaman akan candle beserta informasi apa yang tersimpan, berarti trader memiliki keunggulan dalam membedakan garis tren, pola harga, dan kondisi lain dalam market. Satu yang diperlukan yaitu membaca candlestick dengan jelas.

Ada sejumlah cara yang bisa digunakan trader untuk membaca chart candlestick, dan pilihan yang diambil akan sepenuhnya bergantung pada jenis strategi yang akan dipakai. Beberapa trader mungkin fokus pada formasi candle, sementara yang lain fokus pada pola harga yang muncul.

Bagaimanapun, tiap candlestick menawarkan informasi mendalam tentang apa saja yang terjadi pada market, termasuk tingkat sentimen. Candlestick seperti hammer, hanging man, dan shooting star, menyediakan petunjuk terjadi perubahan momentum yang berlangsung.

Membaca Chart Candlestick
Sumber: google.com

Di samping itu, dengan candlestick trader juga bisa melihat potensi tren yang akan terjadi pada harga. Seperti yang tampak pada gambar, formasi candlestick hammer kadang mengindikasikan tren berbalik arah. Formasi candle hammer mempunyai sumbu bawah panjang dengan bodi kecil.

Harga penutupan berada di atas harga pembukaan. Alasan dibalik terjadinya candle hammer cukup sederhana sebenarnya, yaitu karena harga mencoba menolak tapi pembeli kemudian memenuhi market sehingga menekan harga naik ke atas.

Situasi yang demikian bisa menjadi sinyal bullish untuk masuk market dengan stop-loss yang ketat dan cukup dekat posisi short. Trader sendiri bisa mengambil keuntungan dari formasi hammer dengan mengeksekusi trading long saat candle hammer menutup.

Candle hammer menyediakan benefit karena trader bisa menerapkan stop-loss ketat saat trading (stop-loss dengan risiko beberapa pip saja). Take profit harus ditempatkan secara strategis untuk memastikan rasio risiko profit yang bernilai positif, sehingga take profit harus lebih besar dari stop-loss.

Chart candlestick mampu menolong trader mengenali pola harga yang berkembang dalam chart. Dengan mengenali pola harga seperti pola bullish dan pola triangle, trader bisa mengambil manfaat dari dua pola ini dengan menggunakannya sebagai sinyal entry dan exit dari market.

Dari semua keunggulan yang ada pada chart candlestick, maka menjadi wajar apabila rata-rata trader lebih memilih memakai chart candlestick dibanding jenis lain. Candlestick dinilai lebih lengkap karena mampu menghadirkan informasi market lebih detil jika dibanding dengan chart bar misalnya.

KIRIM KOMENTAR & DISKUSI

Masukkan komentar atau pertanyaan anda
Masukkan nama anda disini