Satu kunci utama untuk melakukan analisa teknikal yaitu dengan membaca tren yang berkembang dalam market. Banyak strategi yang menggantungkan pada arah tren, apakah itu tren naik atau turun. Dari sini, bisa diketahui apakah market masih konsisten ada atau selalu berganti.

Mengetahui apakah tren baru mulai berkembang atau akan berakhir merupakan informasi yang sangat berguna, apalagi dalam kaitannya menyiapkan strategi trading. Kekuatan dibalik perkembangan suatu tren sering direferensikan sebagai momentum, dan ada banyak indikator untuk mengukurnya.

Beberapa jenis indikator yang sering dimanfaatkan untuk mengitung momentum seperti moving average convergence divergence (MACD), stochastic oscillator, dan relative strength index (RSI). Untuk stochastic dan RSI sebenarnya masih masuk kategori oscillator, yang nilainya hanya bisa bergerak antara 0-100.

Indikator momentum tersebut membantu mengidentifikasi saat market bergerak karena jenuh. Inilah fungsi utamanya, yaitu untuk mengetahui apakah masih ada sisa kejenuhan dibalik terjadinya tren naik atau turun dalam market. Tingkat kejenuhan ini sering diasosiasikan sebagai kekuatan pendorong.

Indikator Momentum Sebagai Alat Konfirmasi

Indikator bisa memberi hasil hitungan maksimal jika digunakan sebagai alat konfirmasi sinyal yang terpisah dari indikator utama yang dipakai. Satu metode terbaik saat memakai indikator momentum yaitu dengan mengamati perbedaan antara harga dan momentum sebagai cara untuk mengukur kekuatan dibalik pergerakan suatu tren.

Dari sini, sinyal beli atau jual harus didasarkan pada indikator apapun yang digunakan sebagai indikator utama. Selanjutnya yaitu mencari konfirmasi sinyal dari indikator momentum dengan melihat apakah perbedaan harga dan momentum berada dalam level bullish atau bearish.

Kondisi bullish menyatakan kalau market sedang mengalami periode penjualan berlebihan. Semisal harga jatuh ke titik terendah baru tapi indikator momentum tak menunjukkan titik terendah baru tersebut, situasi ini bisa disebut dengan bullish divergence.

Sedang kondisi bearish menyatakan market mengalami pembelian berlebihan. Jika harga naik hingga membuat titik tertinggi baru tapi indikator momentum gagal menunjukkan titik tersebut, kondisi ini bisa disebut bearish divergence.

Trader harus mengikuti sinyal beli yang dikeluarkan oleh indikator utama saat sudah dikonfirmasi oleh bullish divergence dari indikator momentum yang dipakai. Sebaliknya, trader hanya harus mengikuti sinyal jual saat sudah mendapat konfirmasi dari bearish divergence.

Akan lebih berguna jika mau memakai kombinasi beberapa indikator yang tak sejenis sehingga aspek perbedaan yang muncul dalam metode yang dipakai bisa saling melengkapi. Salah satu contoh sukses yaitu mengkombinasi indikator momentum dengan indikator volatilitas.

Bollinger band punya kemampuan untuk menunjukkan tingkat volatilitas, akan melebar saat volatilitas sedang tinggi, dan menyempit saat volatilitas rendah. Bollinger band akan diam saat volatilitas berjalan searah seperti sebelumnya, yang selanjutnya periode ini umumnya akan diikuti pergerakan breakout.

Meski demikian, arah breakout yang terjadi sebenarnya tak akan diindikasikan oleh Bollinger band, karena memang bukan ini tugas utamanya. Untuk situasi market yang demikian, satu strategi paling tepat untuk diterapkan yaitu strategi momentum yang mengikuti arah.

Indikator Momentum Sebagai Strategi Trading Momentum

Seperti yang sudah disebut, indikator momentum merupakan alat yang begitu fungsional dengan penerapan yang luas. Kemampuan indikator yang bisa digunakan untuk berbagai instrumen mengartikan bahwa trader punya banyak peluang untuk membuat sistem trading yang bisa bekerja untuk jangka pendek dan panjang.

Satu aturan mendasar saat ingin memanfaatkan indikator momentum yaitu, bahwa semakin pendek time frame yang digunakan, performa yang dihasilkan akan lebih sensitif. Ini karena time frame pendek akan lebih banyak menyediakan sinyal sehingga kemungkinan sinyal palsu lebih banyak.

Kemampuan indikator momentum yang bisa digunakan luas membuatnya jadi alat yang tepat untuk trader, entah untuk trading harian atau trading positional. Tapi tentu saja, indikator momentum bukan satu-satunya alat yang bisa dipakai untuk mengukur kekuatan tren.

Trader bisa memanfaatkan indikator momentum untuk mencari sinyal trading secara langsung, meski seringnya hanya digunakan untuk alat konfirmasi. Sinyal paling sederhana yaitu dengan mengambil persilangan yang melewati garis tengah, membeli saat harga naik dari 100 ke atas, dan menjual saat jatuh di bawah 100.

Bagaimanapun juga, pendekatan ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Waktu keluarnya sinyal semacam ini sangat sulit diamati, yang artinya trader akan banyak melewatkan sebagian besar pergerakan saat sinyal sudah muncul. Tapi kemunculan sinyal ini bisa diamati dengan memanfaatkan moving average yang dikombinasi dengan indikator momentum.

Menambah Moving Average Dalam Indikator Momentum

Beberapa trader kadang menambahkan simple moving average (SMA) untuk semakin memperhalus sinyal yang dihasilkan. Untuk melakukan ini, tinggal klik opsi moving average pada pilihan indikator trends dalam menu navigator dari platform trading MetaTrader.

Selanjutnya klik dan seret lalu masukkan ke chart indikator momentum. Akan muncul jendela baru. Terdapat tab parameter kemudian pilih first indicator data lalu klik apply seperti yang terlihat pada gambar berikut.

Menambah Moving Average
Sumber: barrons.com

Strategi trading sekarang berubah, yang mana trader harus membeli saat garis momentum melewati di atas SMA, dan menjual saat garis melewati di bawah SMA. Cara ini dapat meningkatkan ketepatan sinyal trading yang muncul, meski tetap ada peluang sinyal palsu muncul kapan saja.

Indikator momentum merupakan standar yang tersedia sebagai indikator bawaan dalam MetaTrader. Cara menghitung indikator momentum sebenarnya cukup mudah. Indikator akan bekerja dengan membuat perbandingan harga tertentu dengan sejumlah harga pada periode sebelumnya.

Pertama yang harus dipilih yaitu memilih nilai N, yang merupakan jumlah periode yang nantinya dipakai untuk perbandingan. Nilai default N dalam MetaTrader yaitu 14, tapi trader bisa mengubahnya sesuai kondisi. Dua harga harga yang dibandingkan yaitu harga terdekat dari bar tertinggi saat ini, dan harga terdekat dari titik N dari bar sebelumnya.

Tapi dengan memakai platform MetaTrader, perhitungan semacam ini akan dilakukan secara otomatis oleh software, lalu akan menampilkan pada trader dalam chart tambahan di bawah chart utama.

Moving Average Dalam Indikator Momentum
Sumber: fxstreet.com

Pada chart GBP/USD dengan durasi satu jam di atas, bisa dilihat kalau indikator momentum sudah ditambahkan, yang terlihat sebagai garis biru dalam chart kecil di bagian bawah. Puncak dari garis ini merefleksikan kunci perubahan dalam momentum harga forex (catat bahwa MetaTrader tak memakai hitungan 100).

Tapi bisa dilihat dari dalam chart, indikator momentum menunjukkan angka bervariasi dari 100.60 sampai 99.44. Artinya, semakin naik di atas nilai 100, akan semakin cepat harga bergerak naik. Jika berada di bawah 100, bisa dipastikan market akan terjadi penurunan harga yang tajam.

Seperti yang sudah disebut pada bagian sebelumnya, indikator momentum hanya satu dari banyak alat untuk menangkap tren yang tersedia dalam MetaTrader. Trader juga tetap bisa memanfaatkan RSI dan stochastic, bahkan menggabungkan salah satu dari dua jenis tersebut.

Sebagai catatan tambahan, masih ada begitu banyak indikator momentum di luar sana seperti stochastic momentum index (SMI). Tapi karena bukan indikator bawaan MetaTrader, tader harus mengunduh lalu memasangnya secara manual ke platform MetaTrader supaya bisa dimanfaatkan.

KIRIM KOMENTAR & DISKUSI

Masukkan komentar atau pertanyaan anda
Masukkan nama anda disini

*