Sistem triple screen dikembangkan oleh Alexander Elder dan mulai diperkenalkan pertama kali tahun 1986. Sistem ini menggunakan beberapa indikator trading sekaligus dengan maksud untuk membatasi sinyal trading yang saling kontradiktif antara satu indikator dan intikator lain.

Elder berpendapat bahwa tak ada satu indikator pun yang bisa memberikan hasil yang akurat dan konsisten dalam menganalisa market forex yang begitu kompleks. Seperti yang sudah disebut, satu jenis indikator bisa menghasilkan sinyal berlawanan untuk market yang sama.

Untuk mengatasi masalah seperti ini, triple screen akan menyasar tiap potensi trading dari tiga pengujian. Trading yang sudah lolos dari tiga lapis ujian ini secara teoritis lebih menawarkan peluang lebih baik daripada hanya dengan sekali uji coba.

Indikator Dalam Triple Trading

Sangat bisa diterima bahwa dalam lingkup analisa teknikal, indikator yang mengikuti tren tak akan berjalan baik untuk market yang mengalami range atau sideway. Sedang oscillator tak akan bekerja dengan baik untuk market yang sedang tren.

Untuk market range, oscillator masih bisa bekerja, tapi indikator tren tak akan bekerja baik karena memang didesain hanya digunakan dalam market tren. Sistem trading triple screen mengkombinasi indikator tren dan oscillator dengan cara tertentu untuk memanfaatkan keunggulannya.

Di saat yang sama, triple screen akan membatasi kemungkinan buruk jika indikator tak bekerja dengan baik. Jenis indikator yang direkomendasikan yaitu force index dan Elder-ray sebagai oscillator. Stochastic dan William percent range indikator juga bisa bekerja baik dengan sistem trading triple screen.

Salah satu tantangan yaitu saat terjadi sinyal tren yang saling berlawanan meski pada satu time frame. Ambil contoh, saat melihat chart satu hari, tren market kemungkinan naik. Tapi saat melihat chart satu jam, ada kemungkinan tren market menunjukkan penurunan.

Sistem trading triple screen setidaknya melihat tiga jenis tren berbeda dalam melakukan analisa. Antara lain tren jangka panjang (disebut tide), tren jangka menengah (disebut wave), dan tren jangka pendek (disebut ripple). Tren menengah harus menjadi time frame yang dibuat acuan untuk trading.

Sistem triple screen sebenarnya didesain untuk menggunakan chart harian dengan time frame menengah. Tren jangka panjang dapat dilihat pada chart dengan durasi lebih lama dari time frame menengah. Satu contoh, jika trader ingin trading dengan chart harian, time frame tren jangka panjang yang dipakai yaitu mingguan.

First Screen

Lapisan pertama akan memperlihatkan gambaran besar. Seperti yang sudah disebut, ini akan dilakukan indikator tren pada chart dengan magnitude lebih panjang daripada time frame yang nanti dipakai untuk trading. Sistem trading triple screen sebenarnya memakai indikator MACD untuk mengidentifikasi arah tren kuat dalam chart mingguan.

Meski demikian, trader bisa memakai indikator apa saja yang dianggap terbaik, tapi harus sejenis. Satu cara untuk mengetahui indikator yang tepat sesuai tujuan yaitu dengan bereksperimen lewat akun demo. Dari sini trader bisa melakukan trial dan error hingga dapat menemukan satu yang efektif.

Jika layar pertama sudah mengidentifikasi hasil analisa, hasil inilah yang seharusnya jadi acuan trader jika ingin membuka trading. Sebelum itu, hasil uji coba pertama harus diuji lagi dengan chart menengah. Jadi jika sinyal indikator tren adalah naik, trader harus membeli. Jika sebaliknya, trader harus menjual.

Second Screen

Begitu trader sudah tahu arah pergerakan market dari hasil uji coba pertama, selanjutnya lihat grafik yang berlawanan arah pada chart menengah sehingga dapat memberi sinyal masuk yang lebih menguntungkan. Mari berasumsi dengan melihat chart harian sebagai time frame menengah, dan chart mingguan menunjukkan tren besar sedang naik.

Berikutnya cari perbedaan pada chart harian yang selanjutnya bisa menyediakan peluang bagus untuk membeli. Trader melakukan ini dengan mencari sinyal beli dari oscillator yang dipilih pada chart harian. Tiap sinyal jual dalam hal ini harus diabaikan karena tren naik dari layar pertama sudah menyaring ini.

Third Screen

Trader bisa berlanjut ke lapisan ketiga setelah mendapat kepastian dari uji coba pertama dan kedua. Yang berarti, saat tren besar naik dan penolakan menengah menghasilkan sinyal beli dari oscillator, atau saat tren besar menurun dan kenaikan harga menengah menghasilkan sinyal jual.

Lapisan ketiga merupakan teknik menggunakan trailing stop untuk menentukan entry point yang lebih spesifik. Jika trader ingin mengambil posisi long dalam market dengan chart harian menggunakan layar kedua, tempatkan trailing buy-stop satu tick di atas poin tertinggi dari hari sebelumnya.

Jika ingin mengambil posisi short, gunakan trailing sell-stop satu tick di bawah poin terendah dari hari sebelumnya. Anggap jika tren harian sedang naik dan penolakan harga harian menghasilkan sinyal beli berlebihan dari oscillator, maka tempatkan buy-stop satu tick di atas titik tertinggi hari sebelumnya.

Jika market kembali naik dan menyentuh order stop-loss, ambil posisi long dalam market. Jika market berlanjut menolak, order stop tak akan berguna. Trader harus merubah stop-loss dengan menjatuhkan satu tick di atas titik tertinggi dari hari sebelumnya. Tetap gunakan trailing stop hingga tersentuh, atau sampai melihat tren mingguan berubah arah.

Metode Trading Triple Screen

Merujuk pada namanya, terdapat tiga lapisan layar untuk tiap trading. Lapisan pertama menganalisa time frame pertama untuk mencari magnitude terbaik yang nantinya digunakan untuk trading. Ini akan mengidentifikasi tren besar dengan memakai indikator khusus tren.

Lapisan kedua memanfaatkan oscillator ke dalam chart yang digunakan untuk trading dengan maksud untuk mengidentifikasi grafik harga, yang mana pergerakan market akan berlawanan arah dengan tren besar yang terjadi. Hasil akhirnya adalah entry point yang sangat optimal untuk membuka trading.

Lapisan ketiga akan menganalisa reaksi dari breakout jangka pendek yang searah tren besar memakai trailing stop. Sistem trading triple screen memakai stop-loss sangat pendek untuk open posisi mana saja. Elder memberi rekomendasi untuk posisi long agar menempatkan satu tick di bawah bar terendah sebelumnya.

Untuk posisi short, stop-loss harus satu tick di atas poin bar tertinggi terbaru atau sebelumnya. Pada intinya, saat membuka posisi dalam market, tempatkan stop-loss dengan jarak pendek untuk mengelola risiko. Ini bisa saja satu tick di bawah bar tertinggi atau terendah dari hari sebelumnya.

Semisal market bergerak sesuai arah prediksi, pindahkan stop-loss untuk mencapai break-even level. Dari sini, ikuti pergerakan market untuk melindungi setidaknya 50% profit yang didapat. Semisal masih ragu, trader bisa mencoba strategi dulu lewat backtesting agar lebih yakin hasilnya.

Seperti yang disebut, sistem trading triple screen menggunakan beberapa time frame dan kombinasi dari beberapa indikator. Sistem juga memakai order stop-loss yang ketat sebagai bagian dari aplikasi manajemen risiko trading.

Terlebih karena sistem triple screen sengaja didesain untuk memaki chart mingguan untuk mencari tren besar, dan memakai chart harian untuk mencari grafik atau gelombang. Dari fungsinya yang sedemikan kompleks, termasuk kebutuhan istrumen yang dipakai, sistem ini termasuk strategi tingkat lanjut yang berarti kurang tepat diaplikasikan trader pemula.

2 KOMENTAR

Leave a Reply to Ahmad sudali Batal membalas

Masukkan komentar atau pertanyaan anda
Masukkan nama anda disini