Memilih broker forex terbaik untuk scalping tak akan pernah mudah. Saat memutuskan masuk ke bisnis forex, ada sejumlah langkah yang harus ditempuh, satu di antaranya yaitu memilih broker. Langkah ini cukup rumit karena harus menimbang banyak faktor.

Tapi sebelum memutuskan untuk menempatkan setumpuk modal ke broker, trader sebaiknya mau meluangkan waktu untuk mengevaluasi dan membandingkan broker berbeda. Dari sini trader baru boleh memutuskan membuka akun pada broker tersebut.

Apalagi untuk trader scalping, memilih broker forex terbaik untuk scalping akan jauh lebih rumit karena scalping memakai metode trading berbeda dari kebanyakan. Paling ada sejumlah aspek yang harus diperhatikan trader saat ingin memilih broker forex terbaik.

#1. Pricing Model

Aspek ini mengacu pada model harga yang ditetapkan broker. Secara umum ada dua pemodelan harga yang umum ditawarkan broker, yaitu all in spread dan raw pricing plus commission pricing. Dua hal penting sayangnya jarang dibahas broker sehingga trader kadang merasa tertipu.

Saat memilih salah satu model yang tepat sesuai gaya trading, penting untuk menghitung semua total biaya trading dan juga biaya lain yang tak terkait dengan trading. Misalnya untuk komisi, biaya rollover withdraw, pajak, atau biaya lain yang masih terkait dengan aktivitas forex.

Ada satu keuntungan dengan memahami besaran model biaya. Asumsikan trader sudah memberi limit order buy di angka 1.11418 dan sell stop di 1.11412. Jika mengambil model all in spread, baik order limit dan order stop tak akan pernah terpicu (tersentuh).

Jadi untuk trader yang memakai order stop dan order limit seperti ini di market, sangat disarankan untuk mengambil pricing model jenis raw pricing plus commission karena trader punya kesempatan lebih besar take profit akan tersentuh sementara stop-loss sangat jarang tertembus.

#2. Execution Model

Cara mengeksekusi trading juga harus jadi pertimbangan trader saat memilih broker forex terbaik untuk scalping. Setidaknya ada dua tipe eksekusi order yang umum diterapkan broker forex saat ini, yaitu dealing desk dan non-dealing desk.

Broker dengan model eksekusi dealing desk berarti berperan sebagai pihak ketiga untuk tiap trading. Misalnya, saat trader membeli EUR/USD, sebenarnya broker yang menjual ke trader. Broker dealing desk mendapatkan profit melalui spread dan mengelola risiko trading dengan mengambil sisi berlawanan dari posisi trader.

Di sisi lain, broker non-dealing desk yaitu broker yang menetapkan harga berdasarkan likuiditas mata uang lalu menunjukkan pada trader tentang posisi bid dan ask terbaik. Broker jenis ini umumnya menghasilkan profit dengan cara menarik komisi dari trader.

Semakin tahun, banyak konspirasi beredar terkait broker dealing desk yang sering memanipulasi harga agar posisi stop-loss tersentuh sehingga trader kehilangan modal trading. Meski kasus semacam ini sudah terjadi bertahun-tahun lalu (dan mungkin masih terjadi sampai saat ini), mayoritas broker dealing desk sebenarnya menyediakan lingkungan trading yang ideal.

Keuntungan trading melawan broker dealing desk yaitu eksekusi instan untuk semua jenis trading dengan besaran tertentu, yang mana broker non-dealing desk seringnya menawarkan biaya trading rendah tapi disertai slippage jika tak cukup ada likuiditas dalam market untuk kisaran harga tertentu.

#3. Platform Trading

Memilih platform trading sebenarnya pertanyaan besar untuk tiap trader, meski pada akhirnya pilihan dijatuhkan pada satu platform itu-itu saja. Saat dihadapkan pada pilihan platform trading bawaan dari broker, MetaTrader, atau yang lain, satu-satunya saran yang bisa diberikan yaitu agar memilih satu jenis yang sekiranya nyaman dipakai dan sesuai gaya trading.

Trading merupakan pekerjaan sulit, jadi sebaiknya jangan mempersulit diri dengan memakai platform trading yang kurang familiar. Tapi beruntungnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan trader untuk mencari platform trading yang tepat.

Misalnya saja, jika mentor yang diikuti memakai satu jenis platform tertentu yang spesifik, ada baiknya memakai jenis platform yang sama persis supaya bisa membandingkan hasil diskusi secara langsung dengan mengulas chart dan trading.

Jika trader tergabung dalam program broker tertentu, memakai platform keluaran broker jelas lebih dianjurkan. Tapi jika ingin mandiri dan mengembangkan expert advisor (EA) atau membuat indikator trading paling akurat, MetaTrader lebih menawarkan fleksibilitas.

Tapi jika trader belum bisa memutuskan, jauh lebih baik kalau memakai platform trading yang ditawarkan broker karena biasanya lebih stabil dan bisa diandalkan. Sebenarnya, tiap platform trading memberi fungsi dan data yang sama, tinggal pilih mana yang sekiranya nyaman.

#4. Broker Teregulasi

Satu aspek penting lain saat memilih broker forex terbaik untuk scalping yaitu terkait regulasi yang dimiliki broker. Ada begitu saran yang diberikan untuk trader agar mau memilih broker yang sudah teregulasi. Tiap negara punya aturan berbeda, dan trader harus paham ini.

Ada beberapa regulator seperti NFA di Amerika, FCA di Inggris, dan ASIC di Australia. Tapi bukan berarti broker yang sudah mendapat teregulasi dari tiap yurisdiksi ini semua bagus, dan bukan berarti broker yang tak mendapat regulasi dari yurisdiksi tersebut buruk.

Tapi inilah celah yang kadang dimanfaatkan broker scam, dan kenapa ada banyak broker baru muncul di luar tiga yurisdiksi besar yang sudah disebut. Alasannya yaitu karena akan lebih mudah bagi broker mendapat status legal di luar tiga yurisdiksi besar.

Hanya diperlukan syarat modal cukup rendah, prosedur dan kebijakan mudah, dan tak ada aturan ketat yang membatasi. Broker tentu akan senang, tapi trader akan menjadi malang. Saat trader hanya punya perlindungan minimal, tinggal menunggu waktu hal buruk akan terjadi.

Broker yang tak teregulasi seringnya menawarkan sesuatu yang menggiurkan di permukaan, seperti bonus deposit dan leverage super tinggi, tapi lingkungan trading dan proses penarikan biasanya disertai banyak masalah yang tak kunjung bisa diselesaikan.

#5. Gaya Trading

Gaya atau karakter trading, seperti halnya broker, sangat bervariasi pada praktiknya. Misalnya saja, ada trader scalping, trading price action, trader positional, trader hedging, juga lainnya. Artinya, memilih broker yang tepat sesuai gaya trading bisa memberi perbedaan besar antara sukses dan gagal.

Likuiditas, kualitas eksekusi, kecepatan eksekusi, dan model biaya merupakan faktor kunci yang harus dipikirkan saat ingin memilih broker forex terbaik. Untuk trader yang membuka trading dengan volume besar dan keluar masuk secara cepat, maka broker yang menyediakan eksekusi cepat dan biaya trading rendah bisa dipertimbangkan.

Untuk trader yang mengandalkan strategi jangka panjang, pilih broker yang menawarkan rasio swap dan biaya yang stabil untuk semua jenis kondisi market. Dari sini, penting bagi trader agar memahami gaya trading lebih dulu dan strategi apa yang diambil, baru putuskan broker seperti apa yang tepat.

Selalu ingat, peran broker yaitu untuk membantu trader membuka trading dan mencari profit. Tapi jika broker tersebut justru tak banyak membantu dan cenderung merugikan, segera tinggalkan. Masih ada banyak broker forex terbaik untuk scalping yang bisa dipilih.

KIRIM KOMENTAR & DISKUSI

Masukkan komentar atau pertanyaan anda
Masukkan nama anda disini