Ada begitu banyak jenis teknik trading yang tersedia. Beberapa trader mengklaim diri memakai teknik trading jangka panjang atau jangka pendek, atau di antara keduanya. Istilah ini sebenarnya sangat relatif dan punya arti berbeda untuk tiap trader yang menerapkannya.

Satu contoh praktis, trading jangka pendek bisa dimaknai sebagai aktivitas trading yang berlangsung hanya beberapa menit untuk sejumlah trader, tapi bisa berlangsung hingga satu hari untuk trader lain. Berbanding jauh dengan trading jangka panjang yang bisa berlangsung beberapa minggu bahkan bulan.

Apa yang membedakan teknik trading sebenarnya bergantung pada pendekatan yang diambil. Jadi sangat penting untuk memilih satu pendekatan yang dirasa paling nyaman lalu mengkombinasi dengan satu teknik trading yang bisa melengkapi rencana trading.

#1. Carry Trading

Teknik carry trading umumnya diterapkan oleh institusi finansial besar di seluruh dunia untuk meraup profit secara signifikan. Carry trading pada prinsipnya yaitu membeli mata uang yang punya suku bunga paling tinggi, dan menjual mata uang yang rendah suku bunga.

Jadi, semisal pecahan dolar Australia mempunyai suku bunga 4% dan pecahan yen Jepang mempunyai suku bunga 1%, maka membeli pasangan mata uang AUD/JPY akan menyisakan selisih suku bunga 3%. Situasi semacam ini menandakan ada sisi positif dari aktivitas trading.

Di sisi lain, semisal menjual pasangan AUD/JPY maka trader harus membayar suku bunga sebesar 3%. Dalam hal ini, trading bisa disebut negatif. Trader harus lebih berhati-hati dengan apa yang dibawa oleh satu mata uang, baik itu saat membeli atau saat menjual mata uang.

Satu sebabnya, sisi negatif dari trading semacam ini bisa menghanguskan potensi pemasukan dari sejumlah profit yang sudah ditargetkan. Ada beberapa alasan kenapa suku bunga rendah lebih menarik perhatian spekulator atau institusi finansial yang memakai pendekatan carry trading.

Satu alasan utama yaitu karena trader bisa menghasilkan profit berdasarkan nilai yang tak tetap sehingga pemakaian leverage berpeluang besar menghasilkan profit berkali lipat dari perbedaan nilai suku bunga. Misalnya, dengan suku bunga 3% dan leverage 10:1 bisa menghasilkan profit 30%.

#2. Macro-Economic Trading

Trader yang menerapkan macro-economic trading akan berfokus ke data fundamental jangka panjang yang seringnya memengaruhi laju ekonomi. Trader semacam ini umumnya akan membuka posisi trading jangka panjang, mulai dari bulanan hingga tahunan.

Di antara data paling penting menyangkut ekonomi yang biasa dipejari trader yaitu terkait pendapatan negara, inflasi keuangan, situasi pengangguran, dan suku bunga. Semua data tersebut merupakan elemen utama yang dibutuhkan trader macro-economic trading untuk memprediksi.

Dari sini trader bisa mengetahui apa yang bisa didapat dari trading mata uang tertentu, juga rasio nilai tukar yang mungkin berkembang. Trader yang ingin sukses dengan teknik ini harus mampu melihat tren yang akan berkembang pada market beserta kemungkinan perkembangannya.

Trader juga harus lebih peka pada sentiment market yang berkembang dan mampu melihat perubahan lebih cepat dengan psikologi trading yang tepat sesuai situasi ekonomi. Meski trader semacam ini selalu menggantungkan pada data fundamental untuk membuat evaluasi, mereka juga kerap menggunakan analisa teknikal untuk mencari sinyal trading supaya lebih optimal.

Satu metode analisa penting yang biasa dilakukan trader macro-economic yaitu menggunakan analisa inter-market. Metode ini mempelajari hubungan sebab dan akibat antara semua aset trading dengan kondisi ekonomi suatu negara secara umum.

#3. News Trading

Teknik news trading sebenarnya masih masuk kategori analisa fundamental. Trader news akan melihat gambaran market secara umum untuk menangkap pergerakan harga setelah berita ekonomi dirilis. Event ekonomi seperti NFP, laporan inflasi dan GDP bisa meningkatkan volatilitas.

Market akan selalu bereaksi saat suatu berita seputar ekonomi sudah dirilis, dan pergerakan harga yang tajam sangat mungkin terjadi. Terkadang harga bisa berubah naik drastis hingga 150 pip atau lebih hanya dalam beberapa detik saja, juga bisa turun tajam beberapa detik kemudian.

Trading news bisa sangat menjebak dan punya risiko tinggi karena risiko yang ditimbulkan dapat berpengaruh langsung pada posisi long atau short. Tak banyak trader yang mampu menguasai teknik ini dengan sempurna, karena kebanyakan tak bisa menebak arah sebenarnya.

Diperlukan aturan manajemen keuangan yang kuat dan stop-loss yang tepat agar trader news bisa meraup profit karena risiko tinggi yang ditawarkan market. Sebenarnya ada banyak strategi yang bisa dimanfaatkan trader news supaya trading yang dilakukan memberi profit.

Tapi terlepas dari strategi yang dipilih, sangat penting untuk dipahami bahwa rilis berita akan membawa dampak luar biasa pada suatu mata uang. Market mungkin saja akan mengalami range sebelum rilis berita, lalu tiba-tiba membentuk support dan resistance yang kuat.

#4. Swing Trading

Teknik swing trading melibatkan periode waktu tertentu, bisa beberapa hari atau minggu. Trader yang menerapkan teknik ini pada umumnya membuka trading dengan chart berdurasi 240 menit dan 480 menit. Teknik masih dinilai yang terbaik dalam hal frekuensi dan biaya trading yang dikeluarkan.

Dalam hal frekuensi, trader swing umumnya membuka posisi 8-12 kali dalam satu bulan, atau 100-150 tading dalam satu tahun. Dari perspektif ini, teknik swing trading sangat tepat digunakan trader pemula karena banyaknya peluang yang tersedia dalam market forex.

Biaya trading yang harus dibayarkan berupa spread dan komisi juga bisa dikurangi dengan teknik swing trading. Frekuensi trading yang rendah dibanding trading harian atau scalping, ditambah target pip yang tinggi membuat swing trading menjadi salah satu gaya trading paling menarik.

Tak hanya cocok untuk trader pemula, swing trading juga tepat diterapkan untuk trader professional dan spekulator sekalipun. Satu keunggulan dari swring trading yaitu terdapat banyak pola teknikal yang terbentuk dari time frame tinggi lebih akurat dan sangat bisa diandalkan.

#5. Day Trading

Teknik day trading pada prinsipnya kurang lebih sama dengan scalping, yang mana trader harus masuk dan keluar posisi di satu sesi trading saja. Tapi ada perbedaan dari dua teknik ini, yang mana teknik day trading punya rentang waktu yang lebih panjang dibanding teknik scalping.

Day trading tak mengharuskan trader keluar masuk market dalam hitungan menit. Trader dengan teknik ini seringnya mencari swing besar yang terjadi dalam market untuk kemudian ditangkap. Dengan demikian, trader bisa bertahan dalam posisi hingga 30 menit atau beberapa jam dalam satu sesi.

Trader yang memakai teknik day trading umumnya membuka posisi 2-5 kali dalam sehari, tergantung volatilitas yang terjadi dalam market. Volatilitas market sangat dipengaruhi situasi ekonomi, itu sebabnya trader harus paham saat berita ekonomi akan dirilis.

Untuk menjalankan teknik day trading secara efektif, trader harus punya disiplin tinggi untuk memastikan bahwa posisi trading harus sudah ditutup sebelum sesi trading berakhir. Yang jadi masalah, banyak trader baru percaya bahwa market masih menyediakan peluang sehingga terus membuka posisi meski sesi trading sudah berakhir.

KIRIM KOMENTAR & DISKUSI

Masukkan komentar atau pertanyaan anda
Masukkan nama anda disini