Untuk bisa menghasilkan uang dari trading forex dibutuhkan tiga syarat utama, yaitu teknik trading, manajemen, dan broker yang bisa diandalkan. Jika hanya fokus di satu aspek saja, seorang trader tak akan bisa disebut sebagai trader professional.

Selain harus punya teknik trading yang bisa diandalkan, trader harus mampu mengembangkan sistem trading yang dipadukan stabilitas mental. Broker yang dipilih juga punya peran penting dalam mendukung kesuksesan trader, dan ini harus diperhatikan benar oleh trader.

Bahwa tak semua broker punya cara kerja yang sama, terutama dalam mengeksekusi order dari trader. Juga, tak semua broker berlaku adil pada broker, justru tak sedikit yang sering mencurangi trader demi mendapat pemasukan lain lewat beragam cara yang tak diketahui trader.

#1. Markup

Baik broker ECN atau STP harusnya langsung mentransfer order yang diberikan trader ke penyedia likuiditas, dalam hal ini bank. Broker hanya bisa menarik biaya tetap berupa komisi untuk tiap order, dan biaya ini merupakan satu-satunya cara broker STP atau ECN menghasilkan uang.

Sayangnya, banyak broker serakah ingin mendapat uang lewat cara yang tak biasa. Markup merupakan cara yang umum digunakan broker curang untuk menghasilkan uang lebih banyak untuk tiap posisi yang diambil trader. Markup adalah pip yang ditambahkan broker ke penyedia likuiditas berdasarkan spread.

Satu contoh, spread untuk EUR/USD yaitu 0.5 pip, tapi beberapa broker menambah 1 pip sehingga total spread yang harus dibayar trader menjadi 1.5 pip. Dalam hal ini, trader akan menghasilkan 1 pip dari komisi yang sebenarnya ilegal karena menyalahi aturan.

Lalu bagaimana cara mengetahui jika broker melakukan markup? Untuk pertama kali, trader bisa tanya ke broker meski kadang tak semua broker mau menjelaskan. Banyak broker yang percaya bahwa mereka berhak menambah markup selain tetap menarik komisi dari trader.

Beberapa broker ada yang menyangkal melakukan markup, dan mengklaim kalau spread yang ditawarkan sudah sesuai standar yang berlaku di market. Untuk menghindari kecurangan, trader bisa membandingkan besaran spread dari satu broker ke broker lain.

Jika ternyata lebih tinggi 1-3 pip dari spread reguler, berarti broker sudah menambah markup ke dalam spread. Saat ini penyedia likuiditas menawarkan spread rendah, dengan rekor spread tertinggi yaitu 3 pip untuk pasangan mata uang GBP/JPY yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu.

Semisal broker STP atau ECN tak menambah markup apapun, maka nilai spread harusnya tetap rendah. Saat menemukan broker yang menarik biaya markup, semua keputusan ada di tangan trader untuk menarik uang dan menutup akun lalu mencari broker lain yang bisa diandalkan.

Beberapa broker memang menarik markup, tapi asal hanya beberapa poin dan tak ada masalah saat membuka dan menutup trading, broker semacam ini masih layak dipertimbangkan. Broker sebenarnya punya kapasitas merubah besaran nilai spread, dan agak tak masuk akal jika menambah markup.

#2. Slippage

Spread tinggi karena adanya markup bisa dilihat dengan mudah dari platform trading dengan melihat perbedaan harga bid dan ask. Tapi slippage tak akan terlihat oleh trader, sebabnya trader tak akan pernah tahu jika broker melakukan slippage jika trader belum membuka dan menutup posisi.

Slippage merupakan semacam trik yang dilakukan broker. Mudahnya, profit yang didapat trader merupakan kekalahan untuk broker, sehingga broker akan melakukan apa saja supaya trader kalah. Salah satu caranya yaitu dengan merubah harga saat trader membuka atau menutup trading.

Saat trader ingin membeli lalu mengklik tombol beli, broker tiba-tiba menaikkan harga sehingga trader masuk dengan harga yang lebih harga tinggi daripada yang terlihat di chart. Satu contoh, saat ingin membeli EUR/USD seharga 1.31216 di platform, harga lalu berubah menjadi 1.31320.

Harga berubah lebih tinggi saat trader mengklik tombol buy, dan itu sebabnya slippage sangat sulit dideteksi. Broker tak membiarkan trader masuk dengan harga rendah saat ingin menjual, karena tak masuk akal untuk masuk dengan harga rendah saat harga jual sebenarnya lebih tinggi dalam platform.

Tapi saat trader ingin menutup posisi, broker merubah harga sehingga trader keluar dengan harga yang lebih tinggi. Slippage menyebabkan trader tak mendapat profit dari trading yang dimenangkan, dan menderita kerugian lebih tinggi dari trading kalah.

Slippage pada dasarnya memperburuk posisi apapun yang diambil trader. Broker tak melakukan ini secara manual, karena semua dilakukan secara otomatis oleh sistem. Semisal trader tanya kenapa situasi ini terjadi, alasan broker yaitu karena situasi market berubah, volatilitas tak tentu arah, atau lainnya.

#3. Requoting

Merupakan trik curang lain yang sering dipraktikkan broker. Saat harga naik kuat dan trader memilih arah yang tepat saat masuk market lalu mengklik beli, broker akan menunda beberapa detik. Alih-alih membukakan posisi trading, broker justru memberi harga baru yang lebih tinggi daripada harga awal saat ingin masuk.

Dalam hal ini broker kerap beralasan bahwa harga naik secara kuat. Broker melakukan saat trader masih dalam proses memilih arah yang akan diambil. Saat harga naik kuat dan trader membeli, trader akan menghasilkan profit, dan ini yang tak diinginkan broker terjadi.

Jadi broker tak akan mengijinkan trader membeli harga sesuai apa yang terlihat. Dengan menunda order beli yang diberikan, trader akan mendapati harga yang lebih tinggi, dan ini yang disebut dengan requoting. Dan sangat mungkin broker melakukan requoting secara berulang untuk satu trading.

#4. Swap

Swap merupakan biaya yang harus dibayarkan trader jika membuka posisi lebih dari semalam. Swap harus dihitung dengan menggunakan rumus khusus, karena tiap suku bunga dari suatu mata uang besarannya selalu terkait dengan kebijakan bank sentral di suatu negara.

Swap pada dasarnya punya nilai yang tetap untuk semua broker. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, di mana nilai swap antara satu broker ke broker lain berbeda. Semisal mendapati nilai swap terlalu besar, tanyakan pada broker dan tutup akun jika tak ada solusi sama sekali.

#5. Leverage

Leverage termasuk fasilitas bagus yang bisa membantu trader untuk trading dalam jumlah besar meski dengan modal apa adanya. Dengan memakai leverage, trader bisa menghasilkan profit besar dibanding tak menggunakan leverage. Tapi leverage bisa berbahaya jika tak digunakan secara bijak.

Masalahnya, banyak trader yang salah menggunakan leverage dengan mengambil posisi yang terlalu besar yang bahkan akunnya tak sanggup menahannya. Sehingga saat market melawan, trader akan mendapat margin call lalu stop-out dan akun akan ditutup oleh broker.

Broker dapat menawarkan besaran leverage sesuai kemauannya. Beberapa broker bahkan menawarkan hingga 2000:1, yang mana agak di luar kewajaran. Dengan perbandingan ini, trader bisa trading hingga USD 200 ribu untuk modal senilai USD 200.

Broker tahu bahwa 95% trader tak paham bagaimana caranya trading yang benar, dan cepat atau lambat broker pasti akan menutup akunnya. Leverage besar membuat trader membuka posisi tinggi, kalah lebih banyak, dan broker bisa lebih cepat dan mudah dalam menghapus akun.

KIRIM KOMENTAR & DISKUSI

Masukkan komentar atau pertanyaan anda
Masukkan nama anda disini